Source pic: kobayogas.com
Kawasaki Kaze R ini, adalah hadiah pertama dari Papa dan Mama buat saya.
Saat itu, Papa dan Mama memang bukan dari keluarga berada. Mereka bekerja keras siang-malam untuk menghidupi 4 orang anak. Tetapi, mereka paham bahwa anak laki-laki ke 3 nya ini juga ingin memiliki motor. Meski, saya ga pernah mengeluarkan kalimat minta dibelikan sekalipun. Begitu mereka memiliki sedikit rejeki, mereka selalu ingat kebutuhan (atau bahkan keinginan) anaknya. Sejuta salut buat orang tua saya yang sangat sayang dengan semua anaknya. Rata!
Siang itu, saya ingat betul diajak ke showroom terdekat buat lihat-lihat motor. Pulang sekolah, saya langsung beberes dan dengan senang hati ikut ke dealer rumahan. Jaman itu, iklan motor sedang gencar-gencarnya di TV. Yamaha FIZ-R dengan gaya matador banteng, Suzuki Shogun ‘kebo’ dan banyak lagi. Salah satunya adalah Kaze R, iklan yang kurang bagus saat itu. Tetapi, saya memilih motor ini sebagai alat transportasi dan motor pertama saya. Alasannya sederhana, motor ini pendek. Karena tinggi badan saya cuma 160cm rasanya pas dan kaki bisa jejak tanah dengan leluasa.
Setahun berlalu, motor cuma ditaruh di garasi. cuma boleh puter-puter dan panasin dekat rumah saja. Karena saat itu usia saya baru 16 tahun, belum ada SIM. Kinclongnya ini motor terjaga karena saya selalu bersihin tiap pulang sekolah.
Singkat cerita, saya akhirnya punya SIM. Saat itu, saya main dengan 2 orang teman, sebut saja A dan B. Si A ini punya Jupiter Z, sementara si B belum punya motor, tetapi masih pakai Astrea Grand ayahnya. Kita bertiga, kebut-kebutan dari MKG ke Sunter cuma 7 menit. Sungguh masa muda yang sangat memorable.
Banyak kenangan saya dengan si Kaze R ini, Jatuh-bangun, belajar setengah kopling, sampai yang paling bego adalah saya ganti busi pada saat mesin masih panas. Sendiri. Saat mesin masi memuai, saya kencengin tuh busi dengan sekuat tenaga. alhasil, dratnya jebol. Papa yang tahu hal itu, ga marah dia cuma ketawa sambil bilang “aduhhh, di sekolahan kan diajarin kalo besi itu memuai saat panas”. saya cuma senyum getir, ga berani melawan.
Si Kaze akhirnya dibawalah ke bengkel deket rumah, di ‘tambah daging’ istilahnya. Namun, cuma bisa pakai busi merk “Champion” sesudahnya. Bertahan lah saya naik motor itu, dengan ilmu seadanya. Tetapi, masa-masa itu saya sering cuci motor setiap kali kena hujan. Dipoles dan dirawat dengan baik.
Papa yang tahu motor saya sudah dalam keadaan buruk, memutuskan untuk menjual dan menggantinya dengan motor baru yaitu New Suzuki Shogun 110 FD.
Kita berdua jalan masing-masing bawa motor. Papa dengan Vespa Excel 150 biru langitnya, dan saya naik Kaze. Kita jalan ke daerah kota untuk cari dealer Suzuki. Di jalan, Papa sempat bilang “kamu ingat ya, jalan yang papa ajarin. Nantinya, kamu bisa jalan sendiri kemanapun kamu mau. Hati-hati dan jangan terlalu kencang bawa motornya. pelan-pelan saja.” ucapnya dari balik helm cakil-nya. Sungguh, momen itu ga akan pernah saya lupain. I miss you so much, dad.
Pendapat saya sendiri soal Kaze R ini adalah STABIL, rangka kokoh yang dia miliki; swing-arm yang kotak tebal, tangki yang besar (masa itu), jok yang empuk dan handling yang nyaman. Menjadikannya sebagai salah satu motor yang akan selalu memorable di hati saya. Just like you, dad. You always in my heart. Thank you!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Budayakan berkomentar dengan baik dan benar.